RIBUNNEWS.COM, MELAWI - Menteri Riset dan
Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta, memastikan pemerintah akan
melanjutkan eskplorasi terhadap potensi uranium yang terdapat di Desa
Nanga Kalan Kecamatan Ella Ilir Kabupaten Melawi.
“Kita terus
melakukan eksplorasi tetapi dengan tenaga ahli kita sendiri, kita ingin
tahu sebarannya di mana, sebagaimana diketahui inikan tidak langsung
bisa dipakai, makanya harus diproses dulu, kita akan serahkan ke ESDM,
akan ditindak lanjuti seperti apa,” katanya kepada wartawan usai ramah
tamah dengan masyarakat Melawi di pendopo bupati Jumat (3/5/2013) malam.
Usai
ramah tamah, pada Sabtu (4/5/2013) mensristek bersama kepala batan dan
jajaran Pemkab Melawi turun ke Desa Nanga Kalan Kecamatan Ella Ilir
untuk melihat secara langsung lokasi penambangan uranium. Wilayah
pertambangan berjarak sekitar 22 km dari Desa Kalan berada di atas bukit
yang jauh dari pemukiman penduduk.
Sebagaimana diketahui, Wilayah
tersebut memiliki kandungan uranium sekitar 24 ribu ton yang setara
dengan kebutuhan listrik sebesar 9.000 megawatt selama 125 tahun ke
depan. Namun potensi itu telah dikeruk negara lain. Prancis
disebut-sebut telah menguras kandungan uranium di Desa Kalan, Kecamatan
Ella Hilir, Melawi.
“Pemerintah tidak akan melakukan kerjasama
dengan luar negeri, melainkan akan mengerjakan sendiri, dengan tujuan
untuk mengetahui seberapa besar potensi uranium yang terdapat di Desa
Kalan, namun kita tidak sampai ke eskploitasi,” katanya.
Sementara
itu kepala Badan Atom Nasional Djarot S Wisnubroto, membantah adanya
eskploitasi yang dilakukan oleh Prancis. Kata dia kerjasama yang
dilakukan Batan bersama CEA beberapa tahun silam hanya untuk keperluan
penelitian.
“Saya kira eskplorasi itu untuk lembaga semacam
litbang, bukan eskplorasi yang besar, untuk untuk mengetahui seberapa
besar potensi yang ada, bukan terukurnya berapa, itu yang penting, kita
sampaikan kepemerintah, dan angka 24 ribu itu bukan angka yang kecil,”
tegasnya.
Dikatakannya, mengatakan uranium yang terdapat di Desa
Kalan tidak akan di eskploitasi, namun akan terus dilakukan eksplorasi,
hal ini sebagai cadangan negara.
“Kadang-kadang kita berfikir di
luar negeri murah kita kita pakai itu, jangan sampai di dalam negeri
kita melakukan eskploitasi namun di luar negeri sendiri murah, nah ini
yang menjadi pertimbangan kita sendiri,” katanya.